Memperingati Hari Lahir Pancasila: Islam dan Pancasila

Memperingati Hari Lahir Pancasila: Islam dan Pancasila

Oleh: Ais Zakiyudin, SE., MM

SWI.sch.id – Hari ini adalah tanggal 1 Juni 2020. Tanggal ini adalah hari yang sangat bersejarah, dimana para pendiri negara ini menetapkan norma kehidupan berbangsa dan bernegara setelah bangsa ini merdeka dari penjajahan. Saya mencoba mengurai Pancasila dan dikaitkan dengan nilai-nilai Islam yang amat luhur.

Sila pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa”. Inilah yang menjadi jawaban bahwa Indonesia bukan negara sekuler, karena tidak ada pendikotomian antara kehidupan negara dengan agama. Al-Quran telah menjawab sila kesatu itu bahwa “wa ilahukum ilahu wahidun” : Dan Tuhanmu itu, Tuhan Yang Maha Esa. (QS Al-Baqarah:163). Disini kita melihat, tidak ada pertentangan antara sila kesatu Pancasila dengan nilai-nilai Tauhidullah dalam Al-Quran.

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil Dan Beradab”. Sila kedua ini berhubungan dengan sikap dan karakteristik (akhlak) manusia dalam bermasyarkat, menjadikan manusia yang beradab dan madani adalah ajaran Islam. Sebagaimana Rasul pun diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Kemanusiaan yang adil dan beradab ini selaras dengan ayat Al-Quran, yaitu “fala tattabiul hawaa-anta’diluu”. Maka janganlah kamu mengikuti hawa, hendaklah kamu jadi manusia yang adil. (QS An Nisaa:135).

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”. Indonesia didirikan bukan untuk golongan tertentu, bukan untuk agama tertentu, bukan untuk daerah tertenu, maka sudah sepantasnyalah kita menghilangkan ego kesukuan, ego kedaerahan, primordialisme, yang akan memecah belah bangsa kita tercinta ini. Islam pun mengajarkan bahwa persatuan umat adalah suatu keniscayaan. “Waja alnaakum syu’uuba wa qobaila lita’arofu”. Dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (QS Al-Hujurat: 13).

Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Inilah yang mendasari bahwa setiap urusan berbangsa dan bernegara harus mengutamakn musyawarah mufakat. Dalam musyawarah tidak ada istilah menang atau kalah, tapi yang diutamakan adalah keputusan bersama dan untuk kemaslahatan bersama. Dalam islam juga dikenal konsep mudzakarah (saling mengingatkan), tentunya saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan ketakwaan. Al-Quran dalam beberapa ayatnya selalu menekankan kepada umatnya agar setiap permasalahan diselesaikan dengan bijaksana dengan cara musyawarah mufakat. “Wa amruhum syuuroo bainahum.” Dan perkara mereka dimusyawarhkan antara mereka (QS Asy Syuraa: 38). Konsep syura inilah yang diadopsi oleh para pendiri bangsa kedalam sila keempat Pancasila.

Sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Indonesia sebagai negara kesejahteraan (welfare state), memiliki kewajiban mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia, tanpa ada diskriminasi. Seluruh rakyat mempunyai hak dan kewajiban yang sama, tanpa membedakan ras, golongan, suku maupun agama.Islam pun demikian dalam salah satu ayat Al-Quran (QS An-Nahl: 90). Allah SWT berfirman: “Innallaaha ya’murukum bil adli wal ikhsan”. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan.

Islam dan Kehidupan Berbangsa

Jika kita memahami Pancasila secara keseluruhan tanpa tendensi akan egoisme golongan dan berupaya menyelaraskannya dengan nilai-nilai hakiki dalam Islam, maka tidak ada keraguan bahwa antara Pancasila dan nilai-nilai Islam itu tidak bertentangan. Tidak seharusnya mengantitesiskan dan membentur-benturkan antara Pancasila dengan Islam.

Tidak pula seharusnya ada pihak-pihak yang merasa paling pancasilais dengan tujuan untuk memarginalkan peran sesama warga negara. Pancasila bukanlah milik golongan tertentu, keturunan tertentu, tetapi milik semua anak bangsa yang mengidamkan ketenteraman, kebaikan dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sudah seharusnya penafsiran penerapan Pancasila ini ditetapkan secara bersama sesuai keinginan para pendiri bangsa agar tidak terjadi multitafsir sesuai dengan ego masing-masing anak bangsa. Amalkan Pancasila sesuai dengan amanah para pendiri bangsa ini.

Baca juga: SDIT Wirausaha Indonesia Serahkan Infaq Untuk Masjid Baitul Jannah

WhatsApp WhatsApp kami